oleh

Membaca Perilaku Kerumunan Massa dari Kacamata Gustave Le Bon

banner 728x90

Oleh : Akhmad Zhauqi Thahir, Direktur Eksekutif Cerita Demokrasi

OPINI, DIKITA.id – Pikiran  kita biasanya langsung terarah pada gambaran tentang massa atau gerombolan yang disatukan oleh sentimen atau emosi tertentu yang tidak rasional, sehingga mudah terprovokasi untuk melakukan sesuatu yang dianggap kurang atau bahkan tidak nalar.

Dalam berbagai laporan tentang kerusuhan di media massa misalnya, kerumunan sering dilukiskan sebagai orang-orang yang tidak terorganisasi sama sekali. Mereka bergerak secara liar dan menimbulkan kerusakan. Seperti kita ketahui tragedi Kanjuruhan yang menewaskan banyak korban, kondisi saat kampanye politik yang terjadi baik saat dilapangan, konvoi dan saat piala dunia ketika Argentina memenangkan piala dunia 2022 di Qatar. Akan tetapi kerumunan yang diangkat oleh psikologi Le Bon adalah kerumunan tanpa basis sosial.

Le Bon hanya melihat kerumunan sebagai ekspresi mental yang irrasional dari sebuah kelompok atau masyarakat. Dalam beberapa hal, Le Bon bahkan terlihat rasis ketika berusaha memperlihatkan hubungan antara gejala kerumunan dan ‘the genius of the race’.  Dengan ungkapan lain, Le Bon menilai kerumunan sebagai sesuatu yang esensialis, sesuatu yang kompak dalam dirinya sendiri dan menjadi bagian dari nilai yang tetap pada suatu kelompok.

Le Bon juga sangat patriarkhis dengan memberi perumpamaan bahwa kerumunan mempunyai karakter mirip perempuan yang pendiriannya mudah goyah dan berubah. Meski demikian, karya Le Bon sangat berpengaruh tidak hanya secara intelektual tetapi juga secara politik. Penjelasan Psikologi Massa dari Le bon sangat menejelaskan bagaimana perilaku Individu yang sangat membaur dan identitas diri yang hilang ketika berada di kurumunan massa.

Dalam sejarah pandangan Le bon yaitu Berangkat ketika dari kondisi zaman itu, Le Bon mengintip kerumunan dengan perasaan gentar. Saat itu Perancis, negeri di mana Le Bon tinggal, baru saja menyaksikan keberhasilan gerakan massa mendirikan Republik Perancis (French Third Republic). Keberhasilan ini ditandai pula dengan munculnya komune-komune sebagaimana diimpikan oleh kaum komunis 7 Akan tetapi, perubahan sosial politik tersebut selain memancarkan pesona, juga mengandung ancaman.

Le Bon seolah tidak rela dunia politik yang sebelumnya hanya diisi oleh kaum bangsawan yang terpelajar dimasuki oleh rakyat kebanyakan. Oleh karena itu, dia secara sinis menanggapi pengenalan pemilihan umum dalam politik dan kelahiran serikat pekerja. Le Bon yakin pencapaian baru tersebut tidak akan bisa menciptakan peradaban. Di luar sejarah pandangan kontroversi Le bon ini memberi khazanah pandangan Psikologi massa yang kita ketahui bagaimana Individu melebur di kerumumanan dan memunculkan irrasional entah paham memilah secara kognitif mana yang baik atau buruk dalam pergerakan.

Kita ketahui ketika dalam kerumunan massa dengan satu atau dua oknum sangat mudah memprovokatori dan memunculkan caosh. massa dapat diartikan sebagai bentuk koliktivisme kebersamaan. oleh karena itu psikologi massa akan berhubungan perilaku yang dilakukan secara bersama-sama oleh sekelompok massa. Fenomena kebersamaan ini diistilahkan pula sebagai perilaku kolektif Collective Behavior. Adapun sifat-sifat massa dalam pandangan Gustave le bon yaitu munculnya perilaku yang Impulsive dimana massa dapat dengan mudah merespon rangsangan yang menghampirinya, sugestibel berarti massa dapat mudah disugesti dari luar, mudah tersinggung karna munculnya irrasional dalam pandangan individu ketika dalam kerumunan massa.

Tragedi politik di sosial media yang kemarin terjadi sempat panas antara cembong dan kampret serta istilah kadrun adalah suatu atribut identitas sosial yang muncul di masyarakat tanpa mengetahui esensi dalam perdebatan yang tidak ada ujungnya. secara media akun anonim sangat mempermudah kelompok massa atau bahasa medianya adalah Buzzer untuk beraktivitas dan berseluncur di dunia maya, hal ini dapat memunculkan agresivitas  yang memunculkan saling serang menyerang atau debat kusir di antara kelompok.

Dalam tragedi kanjuruhan yang menimbulkan ratusan korban juga berkaitan dengan Psikologi massa dari Gustave le bon dimana perilaku massa serta rasa kecintaan dan kefanatikan menimbulkan perilaku yang konyol dengan pengekspresian dan berujung bentrok antara aparat kepolisian dan suporter. Kerumunan yang emosional yang cenderung melakukan kekerasan / penyimpangan (violence) dan tindakan destruktif. umumnya mereka melakukan tindakan melawan tekanan sosial yang ada secara lansung.

Hal ini muncul karena adanya rasa ketidak puasan, ketidak adilan frustasi, adanya perasaan dicederai. Adapun macam-macam perilaku yang berbentuk kolektif yaitu adanya jumlah massa yang makin banyak hingga self control dalam individu makin berkurang hingga pengendalian massa pun yang jika banyak makin sulit, kejadian ketika panik yang membuat massa berhamburan seperti bencana atau tindakan kekerasan, opini publik yaitu  sekelompok orang yang memiliki pendapat beda mengenai sesuatu hal dalam masyarakat.

Dalam opini publik ini antara kelompok masyarakat terjadi perbedaan pandangan, rumors atau pengendalian berita tanpa memvalidasi berita yang hanya muncul dari mulut ke mulut. Dalam penjelasan Psikologi massa Gusatav Le Bon memberikan kita pemahaman secara individu yang tidak terkontrol.

Dalam bentuk kampanye politik individu massa akan mati-matian untuk memenangkan kandidatnya, makin banyak massa kampanye rasa superioritas dapat muncul dalam diri individu, dalam teori Psikologi massa ada Social contagion theory  ( teori penularan sosial ) menyatakan bahwa orang akan mudah tertular perilaku orang lain dalam situasi sosial massa dimana persuasif dari mulut kemulut, Convergency theory,  menyatakan bahwa kerumunan massa akan terjadi pada suatu kejadiaan dimana ketika mereka berbagi pemikiran dalam menginterpretasi suatu kejadiaan  Deindivuation theory  menyakan bahwa ketika orang dalam kerumunan maka mereka akan “menghilangkan”  jati dirinya dan kemudian menyatu dalam jiwa massa. Penjelasan ini sangat sering kita temui di lingkungan kerumunan saat kampanye politik baik di sosmed ataupun di dunia nyata hingga konflik terkadang tidak bisa di hindari.

Jadi Pendekatan yang mana yang harus ditempuh dalam bersikap apakah pendekatan keamanan atau pendekatan humanisme? Paduan antara keduanya akan lebih tepat daripada hanya mengandalkan salah satunya. Karena sampai saat ini tidak satupun kerumunan dapat diprediksi apakah akan terjadi kerusuhan massa ataukah tetap damai. Oleh karena itu, peran self control atau mengontrol diri  sangat dibutuhkan untuk menyadarkan diri dan pengambilan keputusan dalam melakukan tindakan terhadap perilaku massa ini.

***

image_pdfimage_print
Spread the love

Komentar

News Feed